skripsi segala jurusan
anda butuh skripsi? di sini tersedia skripsi segala jurusan hingga 5500 judul dari berbagai universitas di Indonesia
atau mau uang 110 juta? temukan caranya di sini sekarang juga
KLIK DI SINI
http://www.pedagangskripsi.blogspot.com Ads premium
-





Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut Para Ahli

Setelah memahami pengertian dan karakteristik PTK pada tulisan sebelumnya tentu kita akan bertanya:”Apa sebenarnya tujuan melakukan penelitian tindakan kelas?” Apabila kita mengacu pada pembahasan sebelumnya mengenai pengertian dan karakteristik PTK maka tujuan paling inti dari penelitian tindakan kelas adalah untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran.
Menurut Mohammad Asrori (2007:13) tujuan PTK ini dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelajaran yang selama ini dihadapi, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Oleh karena itu fokus utama penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan alternatif yang dirancang oleh guru kemudian di cobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan alternatif itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
 Jika perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran dapat terwujud dengan baik berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, menurut Suyanto (1999) ada tujuan penyerta yang juga tercapai sekaligus dalam kegiatan penelitian itu. Tujuan penyerta yang dapat dicapai adalah terjadinya proses latihan dalam jabatan oleh guru selama proses penelitian tindakan kelas dilakukan.
Dalam konteks pengalaman latihan guru ini Borg (1996) menegaskan bahwa tujuan utama penelitian tindakan adalah pengembangan keterampilan guru berdasarkan persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.
Dalam konteks tujuan penelitian tindakan kelas ini ada beberapa pendapat yang penulis kutip dari bebagai sumber yaitu sebagai berikut ini: 
1.      Suhadjono (2007:61) mengatakan bahwa tujuan penelitian tindakan kelas itu adalah : 
  •  Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran disekolah
  • Membantu guru dan tenaga kekependidikan lainnya mengatasai masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas.
  • Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan
  • Menumbuh-kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjuta (sustainable)
2.    Menurut I Wayan Santyasa (2007) tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan utama dan tujuan sertaan. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
  • Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi. 
  • Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah, (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan. 
  • Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.
3.     Menurut Kasihani, (1999) tujuan Penelitian tindakan kelas adalah :
  • Meningkatkan dan memperbaiki praktek pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru, mengingat masyarakat kita berkembang begitu cepat. Hal ini akan berakibat terhadap meningkatnya tuntutan layanan pendidikan yang harus dilakukan oleh guru. PTK merupakan cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan atau memperbaiki layanan tersebut. 
  • Meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan atau perbaikan praktek pembelajaran di kelas hanya tujuan antara, sedangkan tujuan akhir adalah peningkatan mutu pendidikan. Misal, terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar, meningkatnya sikap positif siswa terhadap mata pelajaran, bertambahnya keterampilan yang dikuasai, adalah merupakan beberapa contoh dari tujuan antara sebagai hasil jangka pendek dari peningkatan praktek pembelajaran di kelas. Sasaran akhirnya adalah meningkatnya mutu pendidikan. 
  • Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif untuk memperbaiki pembelajaran, berdasar pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas.
4.   Menurut Ditjen PMPTK (2010:7) Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
  • Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  • Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas. 
  •  Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan. 
  • Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Mengacu pada tujuan penelitian tindakan kelas diatas maka Output atau hasil yang diharapkan melalui PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.   Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
b.  Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
c.  Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
d. Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
e. Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
f. Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa (Mohammad Asrori, 2007:14)
        Beberapa alasan mengapa guru dipandang tepat untuk melakukan penelitian tindakan kelas adalah : 
  1. Guru adalah orang yang paling dekat dan paling akrab dengan kelas. Paling karab karena gurulah yang setiap hari melaksanakan proses pembelajaran di kelas
  2. Guru memiliki otonomi untuk menilai kinerjanya sendiri. 
  3. Interaksi guru dan siswa berlangsung secara unik. Dikatakan unik karena ketika siswa berinteraksi dengan guru tidak akan sama dengan ketika siswa berinteraksi dengan personal sekolah lainnya.
  4. Temuan-temuan penelitian  yang bukan penelitian tindakan kelas tidak jarang sulit bisa langsung diterapkan untuk proses perbaikan pembelajaran. Kadang-kadang temuan penelitian itu terlalu teoritik atau terlalu rumit sehingga guru harus belajar terlebih dahulu atau dilatih terlebih dahulu untuk bisa menerapkan dalam proses pembelajaran di kelas. 
  5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan penelitian tindakan kelas.
Sumber :
  1. Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima. 
  2. Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti 
  3.  Borg, W.R. Gall,M.D(1997). Education Research. New York : Longman. 
  4.  Suhardjono (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
  5. Kasbolah, Kasihani. (1991). Penelitian Tindakan Kelas: Guru sebagai Peneliti. Makalah disajikan dalam Lokakarya PTK Bagi Guru SLTP, MTs, SMU, MA dan SMK se-Kodya Malang. Malang: IKIP.
  6. I Wayan Santyasa (2007). Makalah : Metodologi Penelitian Tindakan Kelas.Disajikan dalam Workshop tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Para Guru SMP 2 dan 5 Nusa Penida Klungkung, pada tanggal 30 Nopember s.d 1 Desember 2007 di Nusa Penida. Singajara: UP. Ganesha.
  7. Ditjen PMPTK.(2010). Membimbing Guru Dalam Penelitian Tindakan Kelas Materi Pelatihan Penguatan  Pengawas Sekolah. Jakarta : Kemendiknas.

Silabus Matematika SMA Kelas 11 Semester 1 - Silabus Berkarakter

Silabus Matematika SMA Kelas 11 semester 1 - Silabus berkarakter ini dapat anda download melalui link pada bagian paling bawah. Silabus matematika ini sudah memuat nilai pendidikan berkarakter.  Seperti yang telah diketahui bahwa tiga unsur penting dalam pendidikan berkarakter adalah keluarga, satuan pendidikan (sekolah), dan empat haldengan seimbang yakni, olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga.

Bagi anda yang membutuhkan silabus berkarakter khususnya silabus matematika SMA kelas 11 semester 1, silahkan download dengan cara klik link dibawah ini.

Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (21)

SKL 5 - Indikator 5.3 Hukum Kirchoff

Alhamdulillah, blog berbagi dan study mulai menyentuh bab-bab menegangkan di SKL 5 ini. di indikator 5.3 ini akan menitikberatkan di bagaimana kita menentukan besaran-besaran fisis di rangkaian listrik serta menyelesaikan sebuah rangkaian menggunakan hukum Kirchoff.

Sebenarnya langkah pengerjaan soal hukum Kirchoff cukup sederhana, akan tetapi kterdapatng dalam perjalanannya sering terhambat karena kekurangtelitian terhterdapatp tanda baik kutub tegangan maupun arah arus. Ketidaktelitian tersebut sangat fatal, mengingat begitu salah maka langkah di bawahnya juga ikut salah.

Oke, langsung saja ya... Konsep dari hukum Kirchoff tersebut dapat adik-adik pelajari di file yang akan disertakan juga di posting blog berbagi dan study kumpulan soal matematika kali ini.....

Nah, di modul smart solution Fisika kali ini kita akan membahas soal-soal terkait dengan beberapa cara cepat yang berlandaskan konsep dasar Fisika.

Modul rangkuman dan pembahasan materi smart solution kali ini berisi materi SKL 5 indikator 5.3 Hukum Kirchoff:
- Hukum I Kirchoff
- Hukum II Kirchoff
- Langkah Penyelesaian Menggunakan Loop
- Langkah Penyelesaian TRIK SUPERKILAT

File smart solution ini mencakup soal-soal Ujian Nasional di tahun-tahun terdahulu disertai dengan pembahasan cara cepat trik superkilat dan smart solution.

Bagi adik-adik dan para pengajar yang memerlukan file Smart Solution sebagai bahan pendamping untuk menghterdapatpi Soal Ujian Nasional Fisika SMA 2012 dapat didownload di link di bawah ini:

Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (SKL 5 - Indikator 5.3 Hukum Kirchoff)

Bila adik-adik ingin melihatnya langsung di blog ini, berikut ini merupakan tampilan file Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (SKL 5 - Indikator 5.3 Hukum Kirchoff) yang dapat adik-adik nikmati....



Untuk SKL SKL berikutnya menyusul untuk segera diupload.

Untuk trik dan cara cepat pelajaran lain silahkan dicari di kolom pencarian di atas atau di arsip blog di bagian kanan blog berbagi dan study ini.

Karakteristik PTK Dan Masalah Penting Yang Dapat Dijadikan Bahan Kajian Dalam PTK


A.    Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
PTK
Setiap jenis penelitian tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan penelitian lain. Mencermati defenisi penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan pada tulisan sebelumnya  yang berjudul “Pengertian Penelitian Tindakan Kelas”maka muncul suatu pertanyaan: kalau Penelitian Tindakan Kelas didefenisikan seperti itu maka apa saja karakteristik penelitian tindakan kelas itu? Setiap penelitian pada dasarnya memang dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Jika dilihat dari masalah yang harus dipecahkan , Penelitian Tindakan Kelas memiliki karakteristik penting yaitu masalah diteliti untuk dipecahkan harus berangkat dari persoalan praktik pembelajaran yang dilakukan sehari-hari dikelas. Jadi, Penelitian Tindakan Kelas akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya masalah yang terkait dengan proses dan hasil pembelajaran yang dihadapi di kelas dan harus dipecahkan. Dengan kata lain Penelitian tindakan adalah penelitian kontekstual, artinya praktis yang sesuai dengan problem yang muncul dilapangan. Penelitian bukan menerapkan teori tetapi menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan teori sebagai sandaran sekaligus teori dimodifikasi secara kontekstual.
Persoalan lain yang muncul adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yanmg sudah dilakukan selama mengajar dikelas. Bisa jadi guru telah berbuat keliru selama bertahun-tahun dalam pembelajaran tetapi dia tidak mengetahui. Bahkan sang guru beranggapan bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Untuk mengatasi hal ini maka guru dapat meminta bantuan untuk melihat apa yang dilakukan selama ini dalam proses belajar mengajar di kelas. Di sinilah pentingnya proses kerja sama antara guru dengan peneliti.
Dalam konteks seperti ini guru dapat bekerja sama dengan peneliti dari perguruan tinggi untuk berdiskusi mencari dan merumuskan permasalahan pembelajaran yang selama ini dilakukan di kelas. Dengan kata lain guru dapat melakukan penelitian kolaboratif  dengan peneliti dari perguruan tinggi. Dengan adanya kolaboratif ini diharapkan akan diketahui dan ditemukan solusi permasalahan selama ini yang terdapat dalam pembelajaran dikelas.
Suyanto (1997) mengatakan jika guru bersedia melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru sambil mengajar dikelas sesuai dengan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakannya.
Karakteristik berikutnya masih menurut Suyanto (1997), dapat dilihat dari bentuk nyata kegiatan penelitian tindakan kelas itu sendiri. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Sebenarnya, tanda tindakan tertentu suatu penelitian dapat saja dilakukan di kelas, tetapi penelitian itu tidak termasuk ke dalam penelitian tindakan kelas. Tetapi penelitian semacam ini disebut dengan “Penelitian Kelas”.  Contohnya guru melakukan penelitian tentang rendahnya tingkat motivasi belajar siswa. Jika penelitian ini dilakukan tanpa disertai dengan tindakan-tindakan tertentu untuk meningkatkan motivasi belajar siswa maka penelitian ini bukan merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini hanya sekedar ingin tahu, tidak ingin memperbaiki rendahnya motivasi belajar siswa dengan tindakan-tindakan tertentu.
Sebaliknya jika dalam penelitian itu guru mencoba mencari solusi dan melakukan tindakan-tindakan untuk meningkatnya motivasi belajar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan hasil pembelajaran menjadi lebih baik, maka penelitian ini dapat di golongkan ke dalam penelitian tindakan kelas.
Menurut Suharjono (2007:62) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian tindakan kelas, yaitu :
1.    Adanya tindakan (action). Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan  ditujukan untuk memecahkan permasalahan praktis. Tindakan itu merupakan sesuatu yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.
2.    Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang tidak saja ber upaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. Penelitian tindakan kelas merupakan bagian penting dari pengembangan professional dalam diri guru, karena penelitian tindakan kelas mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan sistematis, mampu membelajarakan guru atau membiasakan guru untuk menulis dan membuat catatan.
3.      Hal yang dipermasalahkan beukan berdasarkan kajian teoritik atau hasil dari penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan actual dan terjadi dalam pembelajaran dikelas. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas terfokus pada maslah praktis bukan problem teoritik atau bersifat bebas konteks.
4.   Penelitian tindakan kelas dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.
5.    Adanya kerjasa antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa dan lain-lain) dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action).
6.      Disamping itu penelitian tindakan kelas hanya dilakukan apabila ada :
a.       keputusan profesionalisme guru
b.      alasan pokok; ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan,
c.       bertujuan memperoleh pengatahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah.
Menurut Cohen dan Manion, (1980) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas memiliki beberpa karakteristik  sebagai berikut :
1.      Situasional, Praktis, dan Relevan
Penelitian didasarkan pada situasi praktis yang secara langsung gayut atau relevan dengan situasi nyata dalam dunia kerja. Hal ini berkenaan dengan diagnosis suatu masalah dalam konteks itu. Subjeknya murid di kelas, staf sekolah, dan yang lain dan penelitinya terlibat dengan mereka.
Kelas yang memiliki masalah berupaya memecahkan masalah yang timbul, sementara kelas yang telah stabil mungkin melakukan peningkatan situasi agar menuju situasi yang diidealkan tentu dengan penerapan berbagai perbaikan yang sesuai dengan kondisi kelas secara nyata.
2.      Memberikan Kerangka Teratur pada Pemecahan Masalah
Penelitian tindakan kelas juga bersifat empiris dan mengandalkan observasi nyata serta data perilaku yang tidak termasuk kajian panitia yang subjektif atau pendapat orang berdasar pengalaman masa lalu.
Meskipun penelitian praktis, bukan berarti meninggalkan ciri-ciri penyelidikan ilmiah. Pelaksanaan penelitian tetap mengikuti kaidah penelitian, yaitu sistematis, teratur, objektif dan imparsial. Pengumpulan data dilakukan secara partisipatif dengan menggunakan instrumen yang telah disusun secara terukur hingga menghindarkan berbagai tindakan subjektif.
3.      Fleksibel dan Adaptif
Fleksibel dan adaptif memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan dan mengabaikan pengontrolan karena lebih menekankan sifat tanggap dan pengujicobaan serta pembaharuan di tempat kejadian.
Memang dalam penelitian terdapat satu ide pokok (dalam satu satuan penelitian). Ide pokok ini tidak berubah, namun berbagai aspek atau langkah mungkin mengalami perubahan sesuai dengan karakteristik subjek di lapangan, situasi, dan pelaksana penelitian. Perubahan dilakukan guna memperoleh prosedur, langkah, atau pola yangpaling sesuai dengan setting meskipun tidak mengubah ide utama (Initial idea).
Ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan adalah penelitian critical teori artinya secara praktis teori dapat disesuaikan dengan situasi lapangan.
4.      Partisipatori
Partisipasi peneliti atau anggota lain secara langsung atau tidak langsung dalam pelaksanaan penelitian. Guru dan siswa secara faktual adalah partisipan utama meskipun guru dapat berkolaborasi dengan pihak lain, misal guru lain, kepala sekolah, atau kolaborator lain. Hal ini mengingat guru lain juga sedang mengajar, kepala sekolah memiliki tugas yang juga berat, maka partisipan yang saling bertanggung jawab di kelas adalah guru dan siswa. Kedua pihak inilah yang memiliki peran dominan, sementara pihak lain hanya membantu.
5.       Self Evaluatif
Modifikasi dilakukan secara terus-menerus dievaluasi dalam situasi yang ada dengan tujuan akhirnya untuk meningkatkan praktek cara tertentu. Penelitian bertujuan memperbaiki praktik di lapangan. Untuk itu partisipanlah yang secara langsung menilai diri sendiri. Guru dan murid adalah tim (keculai penelitian dalam konteks proyek atau mahasiswa dan atau dosen yang meneliti di sekolah). Bila guru yang berisnisiatif meneliti, maka guru muridlah pihak yang menilai praktiknya sendiri.
6.      Upaya Sistematis Kesahihan Lemah
Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan secara ilmiah kurang ketat karena kesahihan dalam dan luarnya lemah. Tujuannya bersifat situasional dengan sampel yang terbatas dan tidak representatif. Penelitian tidak dapat memberikan kontrol pada ubahan-ubahan batas. Jadi temuan-temuannya walaupun berguna dalam dimensi praktis, tetapi tidak secara langsung memiliki andil dalam upaya pengembangan ilmu.
Ini harus disadari oleh partisipan. Penelitian partisipan partisipatori ini memiliki subjektivitas tinggi, karena menyusun instrumen sendiri, mengamati sendiri, menilai sendiri, memutusakan sendiri. Maka hanya kredibilitas guru profesional saja yang dapat melaksanakan penelitian tanpa kehadiran kolaborator.
7.      Honesty dan Fairly
Penelitian tindakaan yang dilakukan di kelas oleh guru sangat ditentukan oleh kejujuran terhadap dirinya. Dalam praktek nyata, guru sangatlah sulit meminta bantuan kepala sekolah, penilik, atau teman guru untuk menjadi pengamat kerena mereka memiliki pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan. Murid adalah pihak partisipan yang paling memungkinkan, karena guru dan muridlah yang paling berkepentingan dalam peningkatan praktek ini. Untuk itu fairly guru menerima kritikan oleh siswa dan diri sendiri adalah kunci baik menemukan masalah, memilih alternatif pemecahan, dan pelaksanaan penelitian. Demikian pula ketika mengumpulkan data, kejujuran keduanya adalah faktor kunci. Keterbukaan dan kejujuran harus tertanam pada diri guru selaku peneliti!
Dari banyaknya uraian mengenai karakteristik penelitian tindakan kelas menurut Muhammad Asrori (2008:9) sesungguhnya dapat dikemukakan beberapa karakteristik inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu :
1.      Masalah berasal dari guru
2.      Tujuan memperbaiki pembelajaran;
3.      Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian;
4.      Fokus penelitian merupakan kegiatan pembelajaran;
5.      Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.
Jika adanya tindakan-tindaka tertentu dalam penelitian tindaka kelas inilah yang juga menjadi karakteristik penting penelitian tindakan kelas. Maka yang paling penting untuk dipertegas disini adalah:”Tindakan seperti apakah yang dapat dikategorikan sebagai tindakan dalam penelitian tindakan kelas?” Menurut Suharsimi (2007) berdasarkan pengalamanya menilai karya tulis ilmiah yang dibuat oleh guru, ternyata masih banyak yang keliru dalam menafsirkan penelitian tindakan kelas. Pada sampul depan tertulis “Penelitian Tindakan Kelas”, tetapi pada bagian dalam ternyata hanya menguraikan proses pembelajaran biasa. Dalam penjelasannya guru memang sudah melakukan sesuatu, tetapi sesungguhnya guru hanya melakukan proses pembelajaran seperti biasa.  Misalnya guru memberikan Lembar Kerja kepada siswa, atau guru memberika tugas untuk dikerjakan siswa diluar kelas, atau guru menugaskan siswa menghafalkan rumus untuk digunakan siswa di kelas. Tindakan-tindakan ini nsesungguhnya BUKAN merupakan tindakan yang dikehendaki oleh penelitian tindakan kelas.
Suharsimi (2007) menegaskan bahwa prinsip dasar tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah “tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan kegiatan siswa.
Berikut ini disajikan beberapa contoh kegiatan guru yang tidak mencerminkan adanya “tindakan” sebagaimana yang dikehendaki oleh penelitian tindakan kelas :
1.      Guru merasa kesal karena setiap hari banyak siswa yang dating terlambat. Kedatangan siswa seperti ini tentu saja mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tindakan guru adalah memberikan peringatan bahwa bagi siswa yang terlambat tidak diizikan masuk kelas.
2.  Guru merasa tidak puas dengan perilaku siswanya yang ketika mengerjakan ulangan banyak yang menyontek. Guru membuat aturan agar sebelum ulangan semua buku catatan dikumpulkan kemeja guru setelah itu baru guru membagikan soal ulangan.
3.   Beberapa siswa tidak mengerjakan PR sehingga ketika guru membahas PR tersebut beberapa siswa tidak dapat mengikuti dengan aktif. Oleh karena itu guru memberikan surat kepada orang tua anak tersebut agar mengingatkan anaknya (Mohammad Asrori, 2008 : 11)
Ketiga contoh di atas tidak mencerminkan adanya tindakan karena guru tidak memberikan kegiatan kepada siswa sehingga mereka harus melakukan sesuatu. Pada contoh 1 guru hanya memberikan peringatan seperti biasanya. Peringatan sudah berulang-ulang diberikan, tetapi kejadian yang sama tetap saja muncul. Pada contoh kedua guru menyuruh siswa mengumpulkan catatan diatas meja guru. Memang dengan cara ini siswa tidak dapat mencontek karena catatannya ada diatas meja guru, tetapi ini bukan perintah kepada siswa untuk melakukan sesuatu untuk perbaikan dirinya. Pada contoh ketiga justru contoh yang tidak baik karena guru tidak mengatasi sendiri dengan tindakan, melainkan meminta bantuan orang tua siswa.
Ada tiga unsur yang senantiasa harus diperhatikan dalam penelitian tindakan kelas, yairu:
1.      Pemberi tindakan, yaitu guru;
2.      Subjek tindakan, yaitu siswa;
3.      Tindakan yang berupa sesuatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa sebagai subjek tindakan dan tindakan itu menjadi pengarah  kepada siswa untuk melakukan perbaikan.
B.     Masalah Penting Yang Dapat Dijadikan Bahan Kajian Dalam Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan karakteristik penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan diatas, maka sejumlah masalah penting yang dapat dijadikan bahan kajian dalam penelitian tindakan kelas menurut Mohammmad Asrori (2007:12) yaitu :
1.  Masalah belajar siswa disekolah misalnya : rendahnya motivasi belajar siswa, rendahnya minat baca, kurangnya kemampuan siswa memahami teks, kurangnya menguasai konsep hitungan, rendahnya keaktifan belajar siswa dikelas dan sebagainya.
2.      Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar siswa.
3.  Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan mutu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran.
4.   Desain dan strategi pembelajaran dikelas, misalnya : inovasi dan implementasi model pembelajaran atau metode pembelajaran tertentu.
5.   Implementasi kurikulum, misalnya : pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.
6.  Media, alat peraga, dan sumber belajar lainnya, misalnya penggunaan alat peraga tertentu untuk meningkatkan kegairahan belajar siswa, pemanfaatan perpustakaan oleh siswa, atau pemanfaatan sumber belajar diluar sekolah.
7.  Sistemp evaluasi proses dan hasil pembelajaran, misalnya: pengembangan alat evaluasi berbasis kompetensi; atau efektivitas penggunaan alat evaluasi tertentu.
Sumber :
1.      Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima.
2.      Suhardjono (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
3.      Suyanto. (1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti.
4.      Suharsimi Arikunto (2007).Penelitian Yindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
5.      http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/19/karakteristik-dan-tujuan-penelitian-tindakan-kelas-ptk-14/

Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (20)

SKL 5 - Indikator 5.2 Fluks, Potensial Listrik, Energi Potensial Listrik, Kapasitas Keping Sejajar

Memasuki pembahasan di SKL 5.2 yang sangat kaya akan rumus. Kalau sekterdapatr menghafalkan saja, maka rumus di Indikator ini dapat lebih dari 20 rumus. Akan tetapi sebenarnya rumus yang sebanyak itu tidak perlu kita hafalkan satu persatu jika adik-adik jeli untuk mengamati rumus mana yang wajib dikuasai sebagai dasar dan rumus mana yang tidak perlu dihafalkan karena dapat diturunkan dari rumus lain.

Nah, di dasarnya tidak banyak rumus dasar yang harus kita pahami kok di SKL 5.2 ini. Dan blog berbagi dan study kali ini mengupasnya agar adik-adik mampu memahami keseluruhan konsep yang termuat dalam indikator ini nantinya. Harapannya nanti setelah memahami konsep-konsep dasar, adik-adik mampu menganalisis konsep apa yang dapat digunakan dalam soal Ujian Nasional nanti.

Oke, langsung saja ya... Konsep dari Fluks, Potensial Listrik, Energi Potensial Listrik, Kapasitas Keping Sejajar tersebut dapat adik-adik pelajari di file yang akan disertakan juga di posting blog berbagi dan study kumpulan soal matematika kali ini.....

Nah, di modul smart solution Fisika kali ini kita akan membahas soal-soal terkait dengan beberapa cara cepat yang berlandaskan konsep dasar Fisika.

Modul rangkuman dan pembahasan materi smart solution kali ini berisi materi SKL 5 indikator 5.2 Fluks, Potensial Listrik, Energi Potensial Listrik, Kapasitas Keping Sejajar:
- Potensial Listrik
- Energi Potensial Listrik
- Hubungan antara FEVEp (Gaya Coulomb, Kuat Medan Listrik, Potensial Listrik, dan Energi Potensial Listrik
- Hukum Gauss
- Kapasitansi Kapasitor
- Rapat Muatan Listrik
- Kapasitor Keping Sejajar
- Tips Menghafalkan Konsep SKL 5 Indikator 5.2 melalui Penurunan Rumus

File smart solution ini mencakup soal-soal Ujian Nasional di tahun-tahun terdahulu disertai dengan pembahasan cara cepat trik superkilat dan smart solution.

Bagi adik-adik dan para pengajar yang memerlukan file Smart Solution sebagai bahan pendamping untuk menghterdapatpi Soal Ujian Nasional Fisika SMA 2012 dapat didownload di link di bawah ini:

Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (SKL 5 - Indikator 5.2 Fluks, Potensial Listrik, Energi Potensial Listrik, Kapasitas Keping Sejajar)

Bila adik-adik ingin melihatnya langsung di blog ini, berikut ini merupakan tampilan file Smart Solution UN Fisika SMA 2012 (SKL 5 - Indikator 5.2 Fluks, Potensial Listrik, Energi Potensial Listrik, Kapasitas Keping Sejajar) yang dapat adik-adik nikmati....



Untuk SKL SKL berikutnya menyusul untuk segera diupload.

Untuk trik dan cara cepat pelajaran lain silahkan dicari di kolom pencarian di atas atau di arsip blog di bagian kanan blog berbagi dan study ini.

Cara Menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah nilai standar yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, apabila nilai yang diperoleh baik ulangan maupun tugas belum mencapai KKM yang ditentukan oleh guru, maka siswa harus mengikuti remedial/perbaikan. Berikut adalah langkah atau cara menentukan KKM untuk guru dalam membantu proses penilaian dan evaluasi belajar:

1. Tentukan nilai kompleksitas

Kenapa kita harus menentukan ini? Tingkat kesulitan materi pelajaran, bisa jadi mudah untuk satu siswa tapi bisa juga sulit untuk siswa yang lain.  Oleh karena itu tentukan rata-ratanya dengan kriteria kompleksitas sbb:

a. Tinggi/sulit = 1

b. Sedang = 2

c. Rendah/mudah = 3



2. Tentukan nilai daya dukung

Nilai daya dukung yaitu sarana dan sarana penunjang pembelajaran, contoh; buku, lks, perpustakaan, lab.komputer, internet, lcd projector, dll. dengan kriteria:

a. Tinggi = 3

b. Sedang = 2

c. Rendah = 1



3. Tentukan nilai Intake,

Intake adalah daya serap siswa dalam menerima materi tersebut. dengan kriteria:

a. Tinggi = 3

b. Sedang = 2

c. Rendah = 1


4. Setelah ketiganya ditentukan, langkah selanjutnya adalah membuat tabel di Ms.Excel dan memasukkan SK, KD dan Indikator

5. Jumlahkan nilai setiap komponen, selanjutnya dibagi 3 untuk menentukan KKM setiap KD!

6. Jumlahkan seluruh KKM KD, selanjutnya dibagi dengan jumlah KD untuk menentukan KKM mata pelajaran!

7. KKM setiap mata pelajaran pada setiap kelas tidak sama tergantung pada kompleksitas KD, daya dukung, dan potensi siswa.

Untuk contoh lebih jelas tentang cara menentukan KKM ini , dapat langsung anda download pada link dibawah ini:


Demikian artikel sederhana tentang cara menentukan KKM, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua